Gula dibalik Manisnya Kopi
Bukan tentang Perasaan kali ini, tapi tentang Tinta segulir cerita fiktif yang diangkat menjadi sebuah kisah best seller, ya salah satu kisah Ayah pejuang di balik helai baju seragam. Menjadi saksi Kemerdekaan Indonesia Kala itu. Dan dikaruniai anak dengan kelebihan...........Penasaran yuuk dilanjut baca ampe abis....
Bukan Seperti Malam Biasanya ,nyanyian sepatu bot berdendang bergerak mondar-mandir di sela-sela gubuk ringkih dengan celah yang dimana-mana ,gejolak suara lantang bergentayangan di setiap sudut kota ,tangisan,penindasan, tertawa berbaur campur menjadi satu .ada istri kehilangan suaminya, ada anak kehilangan ibunya bapaknya,sanak saudara tidak lengkap, hilang,meninggal .ditahan bahkan dibunuh bukan obrolan yang canggung saat itu bunga sakura terbahak ,menguasai bumi pertiwi.
Hendri anak kecil yang tak tau apa-apa menjadi saksi hidup penguasa terjadi di Negara ini, setiap kali aku bertamu hendri diatasnya terlentang bambu runcing menentang,dia pejuang kecil yang menyelinap disela-sela perang ,tidak diajak tidak pula di undang ,nurani dan kepolosannya menjadi bekal abadi untuk membela negaranya atas kepeduliannya yang ia ketahui tentram,aman ,dan sentosa
“semua cepat sembunyi ,carilah tempat yang aman ,jangan sampai tertawa”kata prajurit Indonesia peringatan itu keluar masuk liang telinga hendri,bukan ia tak mengerti ,bukan juga tuli tapi keberanianlah anak kecil nya yang terlalu gagah menentang,membela Negaranya,ia sangat mencintai tanah air INDONESIA ini
“upacara peringatan hari kemerdekaan RI yang ke-70 siap untuk dilaksanakan ,masing-masing pemimpin menyiapkan pasukannya”suara berat nan lantang terdengar jelas di telinga sarah yang pada saat itu dengan penuh kehormatannya membawa sang saka merah putih di barisan paling depan,sarah sungguh sangat beruntung ,hakikatnya sebagai anak bangsa terasa lengkap karena mampu mewakili sekian banyaknya anak di negri ini dalam prosesi upacara kemerdekaan di istana Negara jakarta
Ditengah kebahagiaan dan kebanggaan sibungsu ,hendri berjalan dengan langkah gusar dan panik ,mondar mandir bercampur keringat bibirnya bergetar berkali-kali ,mana kala melihat si sulung tergeletak tak sadarkan diri diruang UGD,dia kakak sarah sedang bertarung dengan keras akibat penyakit kangker yang menyerangnya ,aku merasakn betapa kalut hati sendiri saat itu. Ingin menangis ,air matanya tertahan karena bibirnya menuntut untuk tersenyum melihat si bungsu telah membanggakan hatinya . dasar dia ayah satu-satunya laki-laki yang kuat mengantarkan jenazah si sulung ke tempat peristirahatannya yang terakhir .
“SELAMAT kepada adinda sarah apriant novie yang telah berhasil menerima beasiswa S1 gratis di kyuto jepang” gemuruh sorak soranda mengantarkan kebahagian sarah menyambut pengumuman itu, semua orang bersalaman dan mengucapkan selamat secara bergantian kepada sarah ,serengketan kata-kata telah di rancang khusnah sedemikian rupa.di memory sarah sudah tergambarkan jelas raut wajah sang ayah dan ibundanya ,sarah bergegas pulang ingin segera menemani,tangannya mengetuk pintu dengan semangat ,raut wajahnya berseri,senyumnya mereka sibungsu.
Rumah kecil itu sepi,berkali-kali sarah mengucapkan salam tak ada satupun orang yang menjawab ,kemudian sarah mendobrak pintu yang terkunci rapat itu karena tak sabar ingin menyampaikan kabar bahagianya ,kamar ,dapur,ruang tamu,kamar mandi pun kosong tak ada tanda tanda adanya orang jam dinding menunjukan pukul 17:32 wib ,sore itu sarah mondar-mandir kesana-kemari tak karuan sesekali terlihat sarah tersenyum sendiri,mengepalkan tangan seakan ada semangat yang ingin bergejolak.
Kini senja datang ,burung burung berterbangan kembali ke sarang ,udara hangat berganti sejuk ,terang cahayanya kembali meredup ,adzan magrib sebentar lagi berkumandang mengiringi langkah laki-laki yang hampir sepuh dengan pakaian lusuh membawa cangkul dipundaknya tanpa alas kaki ,laki-laki itu melenggang seperti lelah . hendri telah tiba ayahanda sarah yang ditunggu-tunggu telah datang,kala itu sarah tergagap ,matanya tiba-tiba terbuka selang suara pintu kayu yang lapuk yang dibuka hendri.dengan senyuman mengembang sarah menghampiri ayahnya dan segera saja meraih tangan laki-laki itu dengan penuh ketawadu’an
“ALLHAMDULILLAH WASYUKURILLAH”derai rasa syukur terucap berkumandang berkali-kali bibir hendri mengucap rasa syukur atas kabar beasiswa S1 khusnah,empat mata itu saling berkaca kaca gembira ,keduanya bersyujud syukur yang mendalam dan keduanya berpelukan larut dalam kegembiraan.
“tidak…!! Jangan berangkat” ucap laki-laki itu dengan nada tinggi membentak mengecewakan semuanya ,melibas kebahagiaan dan menghantarkan emosi yang meledak-ledak peuh dendam,sarah terolok-olok ,ia terkejut laki-laki dihadapannya sedang emosi, semangatnya tergeletak manakala ayahnya melarang, kata jepang menyebabkan semuanya ,ayah itu sontak kesurupan mendengar kata jepang. jelas saja hendri begitu marah,pasalnya dia menyimpan dendam pada Negara yang satu itu , JEPANG musuh bebuyutan hidupnya yang susah dan ringkih semua karena jepang, tiap hari hendri harus menelan keirian setiap kali berjalan melintasi menyusuri makam pahlawan dari sudut pintu masuk dan penjuru makam bendera merah putih berkibar bertulis dan menandai para arwah pahlawan disemayamkan ,selama puluhan tahun dia memimpikan bisa diakui sebagai pahlawan nasional dan kelak disemayamkan diantara kepurgaan makam-makam pahlawan . tiap hatinya ciut,keinginannya kecil,angannya terhempas karena perjuangannya melawan penjajah yang keji hanya dibayar dengan profesi tukang gali kubur yang ia geluti setiap harinya.
“tapi yah,ituan dulu dan sekarang berbeda seperti yang dulu ,perang telah usai,kita sudah berdamai,jepang telah menjadi Negara sahabat kita yah….!disana sarah bisa mempelajari ilmunyang tinggi agar kelak sarah bisa membanggakan ayah,bahwa anak tukang gali kubur juga bisa meraih prestasi!.!”jelas sarah dengan nada bergetar ,suaranya parau seperti menahan ketakutan luar biasa sebentar saja ada sesuatu yang keluar meremes membasahi pipinya ,kian lama semakin deras membuat pipinya basa kuyup ,sarah terisak dalam .sementara ayah handanya berlalu tanpa meninggalkannya sepatah kata ,entahlah apa yang membuat laki-laki itu begitu tua ,dendam selama 70 tahun ternyata masih menyayat cukup.
Matahari masih mengantuk ,awan masih menguap,pintu-pintu rumah masih tertutup rapat , orang-orang masih asyik menekuk lutut dan sebagian bersembunyi dibalik selimut ,sarah berbeda hari ini wajahnya lebih berseri-seri dari biasanya ,dia terlihat begitu repot melipat baju dan menyiapkan ini itu disiapkan dalam koper berukuran besar yang tergeletak diatas tempat tidurnya,ayahnya tidak terlihat berlalu-lalang hanya neng fitria yang terlihat bolak-balik memilihkan baju untuk sarah. Yah…..!sarah berangkat,sarah menjemput impiannya ke negeri sakura ,entah bagaimana cara neng fitria membujuk suaminya hingga ia luluh lantas menyetujui sungguh luar biasa ibunda sarah berhasil…..!
Tahun demi tahun berlalu berselang musim berganti ,takdir tetap berjalan mengiringi waktu ,serak tangis yang menggugu-gugu .kini anak adam telah berpulang dengan tenang ,penjaga makam hilang ,diperistirahatkan dengan Damai
Salah satu karya sastra yang gua coret-coret setiap hari di dalam kegiatan yang kosong
dan ini juga salah satu cerpen saya yang saya buat lomba menulis Cerpen tahun lalu tingkat SMK/MA sederajat di Universitas Hasyim Asy'ari Fakultas Sastra dan Bahasa dalam Event Bulan Bahasa. Alhasil Apresiasi dari Sekolah...uhuyy..wkwkwk
Bukan Seperti Malam Biasanya ,nyanyian sepatu bot berdendang bergerak mondar-mandir di sela-sela gubuk ringkih dengan celah yang dimana-mana ,gejolak suara lantang bergentayangan di setiap sudut kota ,tangisan,penindasan, tertawa berbaur campur menjadi satu .ada istri kehilangan suaminya, ada anak kehilangan ibunya bapaknya,sanak saudara tidak lengkap, hilang,meninggal .ditahan bahkan dibunuh bukan obrolan yang canggung saat itu bunga sakura terbahak ,menguasai bumi pertiwi.
Hendri anak kecil yang tak tau apa-apa menjadi saksi hidup penguasa terjadi di Negara ini, setiap kali aku bertamu hendri diatasnya terlentang bambu runcing menentang,dia pejuang kecil yang menyelinap disela-sela perang ,tidak diajak tidak pula di undang ,nurani dan kepolosannya menjadi bekal abadi untuk membela negaranya atas kepeduliannya yang ia ketahui tentram,aman ,dan sentosa
“semua cepat sembunyi ,carilah tempat yang aman ,jangan sampai tertawa”kata prajurit Indonesia peringatan itu keluar masuk liang telinga hendri,bukan ia tak mengerti ,bukan juga tuli tapi keberanianlah anak kecil nya yang terlalu gagah menentang,membela Negaranya,ia sangat mencintai tanah air INDONESIA ini
“upacara peringatan hari kemerdekaan RI yang ke-70 siap untuk dilaksanakan ,masing-masing pemimpin menyiapkan pasukannya”suara berat nan lantang terdengar jelas di telinga sarah yang pada saat itu dengan penuh kehormatannya membawa sang saka merah putih di barisan paling depan,sarah sungguh sangat beruntung ,hakikatnya sebagai anak bangsa terasa lengkap karena mampu mewakili sekian banyaknya anak di negri ini dalam prosesi upacara kemerdekaan di istana Negara jakarta
Ditengah kebahagiaan dan kebanggaan sibungsu ,hendri berjalan dengan langkah gusar dan panik ,mondar mandir bercampur keringat bibirnya bergetar berkali-kali ,mana kala melihat si sulung tergeletak tak sadarkan diri diruang UGD,dia kakak sarah sedang bertarung dengan keras akibat penyakit kangker yang menyerangnya ,aku merasakn betapa kalut hati sendiri saat itu. Ingin menangis ,air matanya tertahan karena bibirnya menuntut untuk tersenyum melihat si bungsu telah membanggakan hatinya . dasar dia ayah satu-satunya laki-laki yang kuat mengantarkan jenazah si sulung ke tempat peristirahatannya yang terakhir .
“SELAMAT kepada adinda sarah apriant novie yang telah berhasil menerima beasiswa S1 gratis di kyuto jepang” gemuruh sorak soranda mengantarkan kebahagian sarah menyambut pengumuman itu, semua orang bersalaman dan mengucapkan selamat secara bergantian kepada sarah ,serengketan kata-kata telah di rancang khusnah sedemikian rupa.di memory sarah sudah tergambarkan jelas raut wajah sang ayah dan ibundanya ,sarah bergegas pulang ingin segera menemani,tangannya mengetuk pintu dengan semangat ,raut wajahnya berseri,senyumnya mereka sibungsu.
Rumah kecil itu sepi,berkali-kali sarah mengucapkan salam tak ada satupun orang yang menjawab ,kemudian sarah mendobrak pintu yang terkunci rapat itu karena tak sabar ingin menyampaikan kabar bahagianya ,kamar ,dapur,ruang tamu,kamar mandi pun kosong tak ada tanda tanda adanya orang jam dinding menunjukan pukul 17:32 wib ,sore itu sarah mondar-mandir kesana-kemari tak karuan sesekali terlihat sarah tersenyum sendiri,mengepalkan tangan seakan ada semangat yang ingin bergejolak.
Kini senja datang ,burung burung berterbangan kembali ke sarang ,udara hangat berganti sejuk ,terang cahayanya kembali meredup ,adzan magrib sebentar lagi berkumandang mengiringi langkah laki-laki yang hampir sepuh dengan pakaian lusuh membawa cangkul dipundaknya tanpa alas kaki ,laki-laki itu melenggang seperti lelah . hendri telah tiba ayahanda sarah yang ditunggu-tunggu telah datang,kala itu sarah tergagap ,matanya tiba-tiba terbuka selang suara pintu kayu yang lapuk yang dibuka hendri.dengan senyuman mengembang sarah menghampiri ayahnya dan segera saja meraih tangan laki-laki itu dengan penuh ketawadu’an
“ALLHAMDULILLAH WASYUKURILLAH”derai rasa syukur terucap berkumandang berkali-kali bibir hendri mengucap rasa syukur atas kabar beasiswa S1 khusnah,empat mata itu saling berkaca kaca gembira ,keduanya bersyujud syukur yang mendalam dan keduanya berpelukan larut dalam kegembiraan.
“tidak…!! Jangan berangkat” ucap laki-laki itu dengan nada tinggi membentak mengecewakan semuanya ,melibas kebahagiaan dan menghantarkan emosi yang meledak-ledak peuh dendam,sarah terolok-olok ,ia terkejut laki-laki dihadapannya sedang emosi, semangatnya tergeletak manakala ayahnya melarang, kata jepang menyebabkan semuanya ,ayah itu sontak kesurupan mendengar kata jepang. jelas saja hendri begitu marah,pasalnya dia menyimpan dendam pada Negara yang satu itu , JEPANG musuh bebuyutan hidupnya yang susah dan ringkih semua karena jepang, tiap hari hendri harus menelan keirian setiap kali berjalan melintasi menyusuri makam pahlawan dari sudut pintu masuk dan penjuru makam bendera merah putih berkibar bertulis dan menandai para arwah pahlawan disemayamkan ,selama puluhan tahun dia memimpikan bisa diakui sebagai pahlawan nasional dan kelak disemayamkan diantara kepurgaan makam-makam pahlawan . tiap hatinya ciut,keinginannya kecil,angannya terhempas karena perjuangannya melawan penjajah yang keji hanya dibayar dengan profesi tukang gali kubur yang ia geluti setiap harinya.
“tapi yah,ituan dulu dan sekarang berbeda seperti yang dulu ,perang telah usai,kita sudah berdamai,jepang telah menjadi Negara sahabat kita yah….!disana sarah bisa mempelajari ilmunyang tinggi agar kelak sarah bisa membanggakan ayah,bahwa anak tukang gali kubur juga bisa meraih prestasi!.!”jelas sarah dengan nada bergetar ,suaranya parau seperti menahan ketakutan luar biasa sebentar saja ada sesuatu yang keluar meremes membasahi pipinya ,kian lama semakin deras membuat pipinya basa kuyup ,sarah terisak dalam .sementara ayah handanya berlalu tanpa meninggalkannya sepatah kata ,entahlah apa yang membuat laki-laki itu begitu tua ,dendam selama 70 tahun ternyata masih menyayat cukup.
Matahari masih mengantuk ,awan masih menguap,pintu-pintu rumah masih tertutup rapat , orang-orang masih asyik menekuk lutut dan sebagian bersembunyi dibalik selimut ,sarah berbeda hari ini wajahnya lebih berseri-seri dari biasanya ,dia terlihat begitu repot melipat baju dan menyiapkan ini itu disiapkan dalam koper berukuran besar yang tergeletak diatas tempat tidurnya,ayahnya tidak terlihat berlalu-lalang hanya neng fitria yang terlihat bolak-balik memilihkan baju untuk sarah. Yah…..!sarah berangkat,sarah menjemput impiannya ke negeri sakura ,entah bagaimana cara neng fitria membujuk suaminya hingga ia luluh lantas menyetujui sungguh luar biasa ibunda sarah berhasil…..!
Tahun demi tahun berlalu berselang musim berganti ,takdir tetap berjalan mengiringi waktu ,serak tangis yang menggugu-gugu .kini anak adam telah berpulang dengan tenang ,penjaga makam hilang ,diperistirahatkan dengan Damai
Salah satu karya sastra yang gua coret-coret setiap hari di dalam kegiatan yang kosong
dan ini juga salah satu cerpen saya yang saya buat lomba menulis Cerpen tahun lalu tingkat SMK/MA sederajat di Universitas Hasyim Asy'ari Fakultas Sastra dan Bahasa dalam Event Bulan Bahasa. Alhasil Apresiasi dari Sekolah...uhuyy..wkwkwk
Komentar
Posting Komentar